Menyapa Waerebo Yang Ramah, Di Pedalaman Manggarai

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Jauh di pedalaman kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, berdiri sebuah desa kecil yang arif. Letaknya tersembunyi dari keramaian, dikelilingi bukit hijau berkabut yang dingin. Itulah Waerebo, desa yang masih hidup diketinggian 1.200 mdpl hingga generasi ke-19. Sebuah desa yang berhasil merengkuh penghargaan Award of Excellence pada acara UNESCO Asia-Pacific Awards tahun 2012 di Bangkok

Disini, keramahantamahan selalu berdampingan dengan pemandangan yang indah. Penduduk Waerebo akan selalu menyapa dengan santunnya. Mereka cukup terbuka pada pengunjung. Ini karena wisatawan darimanapun akan dianggap sebagai saudara jauh yang sedang pulang kampung. Ada ritual khusus untuk para tamu yang datang, namanya Pa’u Wae Lu’u. Lewat ritual ini, para Waerebo meminta ijin dan memohon kepada leluhur mereka untuk meminta perlindungan bagi para tamu selama berada disana, bahkan sampai kembali ke tempat asal.

Seorang ketua adat yang memimpin ritual ini pun akan melakukan semacam briefing kecil kepada tamu dengan sopannya. Dia akan memberitahu apa saja yang bisa dan tidak boleh dilakukan para tamu. Beberapa hal yang dianggap tabu disini diantaranya adalah berpakaian terbuka dan menunjukan kemesraan bersama pasangan.

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Disana, ada kerucut besar yang terkadang mengeluarkan asap. Ini adalah Mbaru Niang, rumah adat penduduk Waerebo yang membuatnya mulai dikenal. Bangunan warisan leluhur mereka ini merupakan icon Waerebo yang pernah terpampang dalam sebuah kartu pos. Uniknya, jumlah Mbaru Niang hanya ada 7 dan tidak boleh bertambah. Rumah berbentuk kerucut yang ditutupi injuk itu beratapkan daun lontar, dibangun dengan kayu worok dan bambu yang direkatkan dengan rotan.

Ada 5 tingkat yang memiliki fungsi berbeda-beda di rumah ini. Ada Lutur, atau tenda di tingkat pertama sebagai tempat tinggal penghuninya.Lalu Lobo, atau loteng diatasnya yang berfungsi tempat menyimpan bahan makanan dan barang. Di tiingkat ketiga ada Lentar untuk menyimpan benih tanaman. Dilanjutkan dengan Lempa Rae, untuk menyimpan cadangan makanan untuk menyiasati jika hasil panen kurang baik. Terakhir, Hekang Kode yang berisi sesajen untuk para leluhur.

Rumah itu dibangun oleh kebersamaan. Semua warga bergotong royong. Pria dan wanita menjalankan fungsi semestinya saat mendirikan atau memerbaiki kerusakan rumah. Mereka juga hidup sangat harmonis. Bahkan dalam satu rumah, tinggal 6-8 keluarga sekaligus yang hidup dengan damai. Ini juga merupakan wujud kearifan masyarakat Waerebo.

Bila mengingat rumahnya yang tidak bisa bertambah, penduduk disini menerapkan aturan agar sebagian penduduk tinggal di desa sekitar. Salah satunya adalah desa Kombo. Desa ini seolah menjadi Waerebo ke-2 di Indonesia karena diisi oleh penduduk yang berasal dari Waerebo. Desa ini pula lah yang menjadi tempat anak-anak Waerebo menuntut ilmu. Namun, semua yang tinggal di luar desa leluhurnya tetap hidup dengan harmonis.

Meskipun mulai dikunjungi wisatawan, mereka tidak berpangku tangan dari uang wisatawan yang datang. Mereka tetap melanjutkan hidup dengan bercocok tanam dengan kopi sebagai primadonanya. Para wanita juga membantu dengan menenun kain songke untuk dijual kepada wisatawan atau keluar desa. Ini sangat benar dilakukan mengingat belum terlalu berkembangnya pariwisata disana,

Posisinya yang terpencil, membuat banyak saudara sebangsa tidak mengenalnya. Padahal, ratusan wisatawan asing sudah sering menjumpai mereka. Baru pada tahun 2008 desa ini ‘meng-Indonesia’. Berkat kehadiran seorang arsitek bernama Yori Antar yang penasaran terhadap sebuah tempat yang dilihatnya dalam sebuah kartu pos, pengunjung dari tanah air lainnya mulai mengimbangi jumlah wisatawan asing. Lokasinya memang masih terpencil, tapi namanya kini sudah mendunia. Kehadiran Yori juga berpengaruh baik terhadap kelestarian Mbaru Niang. Ia dan Yayasan Rumah asuh berhasil membua beberapa pihak swasta dan pemerintah menggelontorkan dana untuk perbaikan Mbaru Niang. Hasilnya, 7 rumah yang ada disana berdiri utuh untuk ditinggali penduduk Waerebo dan untuk dinikmati para wisatawan.

Tapi memang sulit menuju Waerebo. Dibutuhkan perjuangan untuk menyapa warganya. Setelah perjalanan amat panjang ke Labuan Bajo yang dilanjutkan ke Ruteng, petualangan akan terus berlanjut hingga desa Dintor atau Denge melalui perjalanan darat yang melelahkan namun menyajikan pemandangan yang indah. Kedua desa ini menjadi titik terakhir dimana kendaraan bisa mengantar wisatawan. Disana ada beberapa homestay yang diantara didirikan penduduk asli Waerebo yang singgah. Dari desa itulah, perjuangan menuju Waerebo akan sangat terasa lebih sulit. Wisatawan harus berkelana menembus hutan, berjalan di jalan setapak yang mudah longsor, dan menaiki bukit-bukit yang mengitari Waerebo selama 4 jam. Itulah alasan kenapa terdapat penginapan di desa terakhir. Ini karena waktu terbaik untuk memulai hiking ke Waerebo adalah di pagi hari, dimana semalam sebelumnya wisatawan sudah mengisi kembali tenaga di penginapan.

 

 

About the Author