Cacing Nyale si Panganan Langka, Bergizi dan Berbudaya Dari Lombok

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Saat berwisata kuliner Lombok dan Sumba, biasanya yang pertama kali terlintas dalam pikiran wisatawan adalah ayam taliwang, plecing kangkung sampai sup ayam waingapu. Namun, wilayah yang terkenal dengan selera lidahnya yang cenderung pedas ini sebenarnya memiliki makanan unik yang langka. Namanya adalah sambal Nyale, panganan berbahan dasar cacing Nyale. Namanya memang sedikit menjijikan namun sebenarnya, hewan ini bukan lah cacing yang dikenal masyarakat sebagai binatang yang cenderung kotor. Cacing ini, hidup di dasar laut di celah-celah bebatuan.

Namun makanan ini memang tidak terlalu populer apalagi dikalangan wisatawan. Ini karena kelangkaan hewan itu sendiri. Cacing laut ini hanya muncul setahun sekali setiap tanggan 20 bulan ke 10 penanggalan suku Sasak atau sekitar 5 hari setelah purnama. Biasanya terjadi sekitar bulan Pebruari/Maret jelang tradisi Pasola, sebuah atraksi perang yang dilakono dua kelompok berkuda yang masing-masing terdiri dari 100 pemuda membawa tombak kayu yang tumpul. Di hari tersebut, biasanya masyarakat membuat sebuah festival Bau Nyale. Dalam acara tersebut, ratusan masyarakat Sasak turun ke laut membawa jaring kecil untuk menangkap cacing Nyale yang mengambang dantara deburan ombak kecil. Selanjutya masyarakat mengolahnya menjadi panganan bernama Sambal Nyale ataupun pepes Nyale.

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Ini juga sebuah upaya memertahankan tradisi suku Sasak Lombok. Upacara ini juga merupakan sebuah kepercayaan mereka agar mendapat kesejahteraan. Mereka percaya kalau hewan bernama lain Eunice Fucata ini adalah simbol pembawa kesejahteraan dan keselamatan. Maka semakin banyak cacing yang muncul semakin sejahtera pula kehidupan mereka seperti besarnya panen yang didapat sebagai akibat dari suburnya tanah. Cacing-caing tersebut, selain disantap juga akan ditaburkan ke ladang mereka demi mencapai tujuan tersebut. Masyarakat bahkan percaya kalau Nyale adalah jelmaan Putri Mandalika yang sangat cantik dan terkenal seantero Lombok kala itu. Saat banyak pangeran mencoba memersuntingnya, ia pun kebingungan untuk memilih sampai akhirnya menyeburkan diri ke laut dan berubah menjadi Nyale yang beraneka warna.

Kembali ke masalah makanan, setelah tradisi tersebut biasanya Nyale dimakan dalam keadaan masih hidup. Namun banyak cara lain dalam mengolah Nyale ini salah satunya yang cukup populer disana adalah Sambal Nyale. Cara membuatnya cukup mudah yaitu dengan menambahkan cabai halus, kemangi dan perasan jeruk purut ke dalah Nyale mentah. Bagi yang belum terbiasa, awalnya akan merasakan suatu taste yang aneh di lidah namun sebenarnya panganan ini memiliki rasa yang gurih dengan tekstur kenyal khas cacing. Sebagai hewan laut pun makanan ini tidak berbau amis, karena pengaruh campuran kemangi. Sangat disarankan bagi yang tidak menyukai panganan berbau amis.

Bagi yang tidak menyukai bentuk cacingnya atau keentahannya, masyarakat juga sering mengolahnya menjadi sambal Nyale Pa’dongo. Untuk yang satu ini Nyale disangrai brsama kelapa parut, bawang putih dan merah, jahe, daun kemangi, dan cabai iris lalu diaduk hingga bentuk Nyale nyaris tak terlihat. Hasilnya akan lebih menyerupai serundeng. Santaplah makanan ini bersama ayam kampung yang dimasak dengan santan.

Nyale memiliki kandungan gizi yang tinggi. kandungan protein nyale yaitu 43.84 %., karbohidrat 0.543%,  fosfor 1.17%, kalsium 1.06 % lebih tinggi dari kalsium pada susu sapi ( 0.12%), magnesium 0.32 %, Natrium 1.69 %, kalium 1.24, klorida (1.05%), dan zat besi 857 ppm. Nyale juga dipercaya dapat berfungsi sebagai antibiotik karena Nyale menunjukkan aktivitas pada 9 bakteri benthos dan 6 kuman isolat klinis. Jadi selain nikmat juga kaya akan gizi.

So, what are you waiting for? Bila berkunjung ke lombok pada waktu-waktu tersebut jadilah orag pertaa di lingkunganmu yang menyantap makanan penuh filosofi dan gizi ini.

About the Author