Giethoorn, Desa Terapung Ramah Lingkungan

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Berbicara daerah terapung di Eropa, Venesia di Itali selalu menjadi yang pertama terlintas di benak wisatawan. Namun, Eropa tak sebatas itu. Di Belanda pun ada desa terapung yang tak kalah indahnya dengan Venesia. Di Eropa, desa ini seringkali disebut sebagai ‘Venesia Dari Utara’. Giethoorn terletak di kotamadya Steenwijkerland provinsi Overijssel Belanda. Tak terlalu jauh dari Amsterdam.

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Serupa dengan Venesia, trasportasi utama disini menggunaka perahu-perahu kecil. Adapula perahu berukuran bis yang digunakan untuk menampung penumpang dalam jumlah yang banyak. Semua wisatawan yang berkunjung, bisa memulai perjalanan di dermaga yang ada di kanal utama. Dari sana perahu-perahu tersebut akan mengantarkan turis ke seluruh penjuru desa. Saat berkeliling, pengunjung bisa menikmati bangunan-bangun dengan arsitektur menawan khas Belanda yang terkenal unik. Bangunan tersebut berdiri di atas tanah yang terlihat seperti pulau-pulau keci yang dipisahkan kanal-kanal tadi. Selain itu, wisatawan juga akan dimanjakan dengan suasana yang tenang dan asri. Perahu disana pun menggunakan Wishper Boat yang sangat halus suaranya, sehingga anda tidak akan merasa dibisingkan oleh suara mesin

Bagi yang ingin berlibur ke tempat yang bebas polusi, Giethoorn sangatlah cocok untuk dikunjungi. Disana tidak terdapat jalan raya sehingga kendaraan bermotor tidak dapat berlalu lalang. Perahu-perahu tadilah yang menjadi pengantar para penduduk atau wisatawan untuk berkeliling. Adapun jalan yang dibuat hanyalah jalan yang diperuntukan untuk berjalan kaki atau bersepeda sehingga sangat ramah lingkungan. Adapun hal lain yang membedakan Giethoorn dengan Venesia. Jika di Itali kanal-kanal cenderung dibatasi dengan bangunan-bangunan beton, di Giethoorn justru tembok-tembok tersebut hanya digunakan untuk membantu menopang rumah-rumah terapung tadi. Disekililing desa ini hanya diisi dengan pohon-pohon rindang, rerumputan disisi kanal, sampai bunga-bungan yang cantik. Sehingga membuat tempat ini jauh dari polusi sekaligus menegaskan tempat ini sebagai most recommended place untuk liburan yang nyaman, tenang, indah, dan menyenangkan.

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Giethoorn sendiri merupakan berkah dari bencana banjir besar St. Elizabeth pada tahun 1170. Air yang “menenggelamkan” St. Elizabeth tadi mengalir ke wilayah tersebut. Menghasilkan kanal-kanal kecil dengan kanal utama sepanjang 7,5 km yang mengelilingi desa. Dari kanal tersebut, terbentuklah daratan-daratan kecil yang menyerupai pulau-pulau terpisah yang kini menjadi tempat berdirinya rumah-rumah penduduk tadi. Namanya sendiri tercipta seiring datangnya buronan Mediterania di tahun 1230, bersamaan dengan awal berdirinya desa Giethoorn. Para buronan tersebut melihat banyak tanduk kambing terapung yang mati dan terbawa arus banjir tadi. Mereka pun akhirnya menami daerah tersebut dengansebutan ‘ Geytenhorn’ atau tanduk kambing sebelum kini berubah menjadi Giethoorn. Sampai pada akhirnya Giethoorn menjadi terkenal, setelah komedian ternama Belanda kala itu bernama Bert Haanstra membuat komedi terkenal berjudul ‘Fanfare’ di tahun 1958.

Giethoorn sangat cocok untuk berlibur bagai wisatawan yang hidup di hingar bingar kota. Datanglah kesana, dapatkan kenyamanan, ketenangan, dan kenangan yang tak akan terlupakan. Lalu kembalilah ke kota dengan suasana hati dan pikiran yang lebih fresh.

Foto Istimewa

Foto Istimewa

About the Author