Mengenal Lebih Dekat Blue Mosque dan Hagia Sophia Yang Menawan Di Turki

Blue Mosque (Foto: Istimewa)

Blue Mosque (Foto: Istimewa)

 

Dimanakah Ibukota Turki? Pasti banyak yang menjawab Istanbul. Salah, yang tepat adalah Ankara. Ya, Istanbul bukanlah Ibukota, tapi yang paling terkenal di Turki. Selain sebagai yang terbesar dan posisinya yang strategis sebagai pusat perdagangan karena berada di dua benua, ‘faktor X’ lainnya yang membuatnya menjadi terpopuler adalah kehadiran Blue Mosque dan Hagia Sophia yang memesona sebagai landmark-nya.

Saat pertama kali melihat Blue Mosque, nama Masjid Biru rasanya kurang pantas untuk disematkan. Hanya bagian kubahnya yang terlihat kebiruan. Namun memang bukan itu identitas resminya. Mesjid ini sebenarnya bernama Masjid Sultan Ahmed. Namanya diambil dari sang empu-nya, yaitu Sultan Ahmed I dari dinasti Ottoman yang berkuasa pada tahun 1603-1627. Untuk menyaingi kemegahan Hagia Sophia, ia memerintahkan Mehmed Aga, seorang arsitek kenamaan kala itu untuk merancang sebuah masjid yang sangat megah tepat di hadapan Hagia Sophia.

Konon ia meminta untuk dibuatkan masjid dengan 4 menara yang terbuat dari emas. Akhirnya sejak pertama dibangun pada tahun 1609, pembangunan pun selesai 7 tahun kemudian. Namun yang terjadi bukanlah masjid dengan 4 menara emas, melainkan 6 menara yang bukan dari emas. Ini karena sang perancang salah mendengar permintaan sang Sultan. Emas yang dalam bahasa setempat disebut ‘Altin’, justru malah terdengar ‘Alti’ yang berarti enam. Maka dibangunlah masjid sesuai dengan permintaan versi pendengaran si arsitek. Ia pun panik dan berpikir akan dipenggal karena kesalahannya. Tapi yang terjadi, Sultan Ahmed justru terpesona dengan keindahan 6 menara yang mengitari masjid idamannya itu. Namun, ini sebenarnya sempat membuat sang Sultan mendapat kritik karena jumlah menara ini sama dengan Masjidil Haram di Mekah.

Rekasi Sultan terhadap desain masjid itu rupanya juga menjadi rekasi dunia sehingga kemegahannya menggema ke seisi bumi hingga saat ini. Bagaimana tidak, bentuk mesjid ini sangat indah. Eksteriornya bukan hanya menara-menara yang menjulang tinggi tadi. Ada pula kubah-kubah biru yang seolah saling bertumpu di ketinggian dengan ukuran yang berbeda, dimana kubah tertinggi memiliki diameter 23,5 meter dan tinggi 43 meter. Taman indah pun turut menghiasi bagian luar masjid ini.

Blue Mosque (Foto: Istimewa)

Blue Mosque (Foto: Istimewa)

Interiornya pun sangaat memesona. Dengan dilapisi dinding-dinding keramik berwarna biru, bagian dalam masjid ini menjadi semakin cantik. Belum lagi lampu-lampu indah bergelantung di atasnya, semakin menyinari kaligrafi-kaligrafi buatan Seyyid Kasim Gubari yang terukir di dindingnya. Bagian dalam ini tak semuanya bisa dipakai hanya untuk berwisata. Wisatawan yang tidak akan beribadah hanya boleh masuk hingga syaf bagian belakang karena yang didepan digunakan untuk ibadah. Saat masuk pun terdapat aturan kalau semua harus berpakaian sopan seperti yang diisyaratkan dalam agama Islam.

Dari dulu hingga sekarang, masjid ini tetap berfungsi sebagai tempat beribadah. Selain itu juga menjadi salah satu icon wisata di Istanbul. Masjid ini pun sering dianggap sebagai puncak perkembangan masjid selama dua dekade Kekhalifahan Utsmaniyah. Kubah-kubahnya pun menandakan kemajuan teknologi bangunan di jaman tersebut.

Dihadapannya, berdiri sang tetangga yang lebih dulu memancarkan pesonanya. Itulah Museum Hagia Sophia. Di dalam museum itu, terdapat nuansa dua religi sekaligus. Islam dan Kristen. Ini karena museum ini awalnya dibuat sebagai gereja yang berdiri selama 916 tahun dan sebagai Masjid di 482 tahun berikutnya hingga pada 1935.

Blue Mosque dan Hagia Sophia (Foto: Istimewa)

Blue Mosque dan Hagia Sophia (Foto: Istimewa)

Gereja itu sendiri berdiri di era Konstantinopel pada tahun 537. Namanya berasal dari bahasa Yunani Aγια Σοφία yang berarti Kebijaksanaan Suci. Orang yang membangunnya adalah Kaisar Justinian. Ia membuatnya hanya dalam waktu 6 tahun, namun hasilnya gereja ini menjadi yang termegah disana sebelum akhirnya disaingi oleh Blue Mosque. Bahkan beberapa sumber menyebut kalau gereja ini kaya akan hiasan emas dan permata. Bila berada di dalamnya saat itu, mata aan dibuat terpesona oleh mozaik-mozaik dan karya seni lainnya yang sangat indah. Pihak yang menggunakan gereja tersebut untuk ibadah adalah masyarakat Byzantine ang dibina oleh Constantius, putera Kaisar Constantine Agung.

Gereja ini sering kali mengalami kerusakan terutama pada bagian kubah. Ini karena gempap-gempa besar yang sering melanda kala itu. Meskipun konon dirancang untuk tahan gempa, kubah tersebut tetap tak mampu menahan goncangan alam.Gempa yang merusak tersebut diantaranya terjadi pada 558 masehi saat era otoritas Justinianus, dan 986 masehi di jaman Basil II berkuasa.

Hagia Sophia (Foto: Istimewa)

Hagia Sophia (Foto: Istimewa)

Sampai pada di tahun 1450 ahirnya gereja ini runtuh sepenuhnya, namun bukan runtuh secara fisik. Hal ini menjadi tanda takluknya Konstantinopel oleh pasukan Turki Usmani yang dipimpin oleh Sultan Mehmet II. Saat itu, pasukan Usmani mengepung Konstantinopel setelah Kaisar Romawi kala itu menolak tawaran darinya. Kala itu Mehmet II mengingingkan Konstantinopel ditinggalkan dengan jaminan kaisar Romawi akan dijamin keselamatannya dan akan diberi kekuasaan di Yunani, tapi ditolak mentah-mentah.

Penolakan itu memicu perang tak seimbang. Maklum saja 7.000 prajurit dan 50.000 penduduk Konstantinopel terpaksa harus melawan 100.000 pasukan Turki Usmani. Namun, Konstatinopel memiliki benteng kota yang kokoh sehingga memaksa Mehmet II untuk melakukan serangan yang lebih masiv. Sampai pada akhirnya benteng tersebut roboh. Konstatinopel semakin terdesak hingga hanya menyisakan Gereja Hagia Sophia. Penduduk dan prajurit yang pasrah akan kekalahan berkumpul disana. Melakukan misa terakhir sambil membunyikan lonceng sepanjang malam.

Hagia Sophia (Foto: Istimewa)

Hagia Sophia (Foto: Istimewa)

Melihat kondisi ini, sang Sultan merasa menang. Konstantinopel benar-benar runtuh lalu bererganti nama menjadi kota Islam atau Istanbul. Gereja ini menjadi saksi runtuhnya Konstantinopel sekaligus menjadi bagian yang juga “runtuh”. Sang Sultan segera memasuki kota, ia turun dari kudanya lalu bersujud atas keberhasilannya menghancurkan pasukan Byzantine. Ia langsung segera memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan semua benda peninggalan Kristen di dalam gereja tersebut. Setelah itu ia pun merubah fungsinya dari gereja menjadi Masjid. Di bulan Mei 1453, Shalat Jumat pertama pun berlangsung di Masjid yang tetap bernama Hagia Sophia ini.

Hampir senasib dengan pendahulunya, Masjid ini pun kembali “runtuh” seiring berakhirnya kekuasan Ottoman saat terjadi perang dunia di tahun 1937. Kekalahan Ottoman akhirnya merubah Turki menjadi Republik. Ibukota pun berpindah dari Istanbul ke Ankara dan tentunya Mustafa Kemal Ataturk pun menjadi pengusa dengan tahta presiden pertama Turki. Sang ‘Bapak Republik Sekuler Turki’ itu langsung melakukan proyek “Pembongkaran Hagia Sophia”. Dinding-dinding di kerik, ornamen kristiani dimunculkan kembali hingga terjadi perpaduan dua agama di dalamnya. Mozaik dan seni lainnya dengan nuansa kristiani nampak di interiornya berpadu dengan kaligrafi-kaligrafi Islami. Hagia Sophia pun resmi berubah fungsi menjadi museum Hagia Sophia hingga sekarang.

 

 

 

 

About the Author