Petra, Peninggalan Peradaban Cerdas Dari Balik Batu

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Sam dan teman-temannya serta para Autobots sedang berjuang menyelesaikan misinya untuk menghentikan ambisi jahat para Decepticon di bumi. Sampai pada suatu waktu, robot tua yang mereka temukan mengantarkannya ke gurun tandus yang panas dengan magic-nya. Sampai disana mereka beristirahat disebuah kota berbatu yang sangat indah. Semua yang sudah menyaksikan film Transformer jilid ke 2 pasti melihat kota ini. Itulah Petra, kota batu dari Timur Tengah milik Jordania.

Tapi pesona Petra tak sedangkal yang diceritakan Transformer. Dari balik batu, terdapat sejarah luar biasa sejak sebelum masehi milik peradaban bangsa Nabatean yang cerdas. Mereka adalah pengembara yang berkelanan untuk berdagang. Para Nabatean pun hidup disana dan tumbuh menjadi saudagar kaya dari bisnis yang mereka jalani.

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Ini berawal dari kehadiran Nabatean disana. Raja Aretas IV yang memimpin para Nabatean ingin membangun sebuah kota di abad ke-6 sebelum masehi. Tak bisa dibayangkan bagaimana proses pembangunannya berlangsung. Tapi yang bisa diketahui, semuanya bermodal kecerdasan kaum Nabatean. Batu-batu digali dan diukir dengan perkakas yang entah seperti apa. Hasilnya, Petra menjadi kota dengan pertahan terbaik dan Petra yang keindahan reruntuhannya menjadi tempat wisata saat ini. Sebuah tempat yang membuat Michael Bay sang sutradara Transformer sampai berpikir untuk menjadikannya bagian dari cerita.

Kecerdasan Nabatean pun tak sampai hanya dari permukaan kotanya saja. Dari dalam, mereka berhasil menciptakan sebuah sistem yang mampu menghidupi kaumnya. Keahlian membuat saluran air dan tangki bawah tanah membuat kota tersebut tidak pernah kesulitan memeroleh air bersih. Demi memermudah proses pengangkutan air, mereka menggunakan sistem hidrolik. Sulit dibayangkan bagaimana peradaban yang hidup sebelum masehi mampu menciptakan hal luar biasa ini.

Keberhasilan mereka membangun kota inilah yang turut berperan dalam kesuksesan mereka soal urusan perdagangan yang mampu membuat kaumnya hidup makmur. 4 abad sebelum masehi, kota yang memiliki posisi strategis ini menjadi jalur perdagangan dunia yang ramai. Lokasinya menjadi jalur distribusi perdagangan antara Eopa dan Timur Tegah.

Kota yang awalnya ditempati karena memiliki benteng pertahanan yang kuat berubah jadi pusat perdaganga dunia. Individu Petra pun tumbuh pesat hingga ribuan jiwa sehingga membuat kota ini semakin ramai. Mereka juga memungut bea cukai demi memertahankan kemakmuran yang telah dicapainya. Sebelum akhirnya kemakmuran Petra runtuh perlahan seiring kedatangan Romawi di tahun 106 masehi.

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Setelah itu, sejarah lain pasca Nabatean pun tercatat disini. Mulai dari kehidupan para Romawi yang sedikit merubah gaya arsitekturnya sehingga terdapat gaya Romawi, sampai jejak ke-Nabian pun hadir disana. Tercatat Nabi Harun as pernah tinggal disekitar Petra. Gunung Harun atau Jabal Harun dekat Petra diyakini sebagai lokasi dimakamkannya Harun as. Tradisi Arab juga meyakini kalau Nabi Musa as pernah singgah disana sebagai orang yang memukul batu dengan tongkat hingga mengeluarkan air. Nabi Muhammad SAW saat berusia 10 tahun beserta pamannya pun pernah menyambanginya.

Tahun 700an masehi Petra sempat dibiarkan kosong selama beberapa abad, seiring kemunculan beberapa bencana dan kehadiran jalur perdagangan baru. Sistem Hidrolik beserta beberapa bangunan utama pun hancur. Sampai suatu waktu di abad ke-12, perang Salib yang mencenangkan dunia kala itu benar-benar menghilangkan eksistensi Petra. Lalu, Petra pun ditinggalkan dan tak dikenal dunia selama 500 tahun. Hanya para Arab Badui yang mengetahui keberadaan Petra pasca perang. Julukan ‘The Lost City’ pun merekat.

Abad 19, Petra ditemukan kembali oleh petualang Swiss bernama Johann Ludwig Burckhardt. Ia seolah menjadi pintu bagi Petra agar dunia melihatnya. Pasca kehadiran pria yang lebih sering menamai dirinya Louis ini, Petra terus eksis sampai menjadi objek wisata para traveller dari seluruh dunia. Ini karena sejarahnya, pesonanya, hingga panorama sekitarnya yang bergitu indah dikelilingi gunung batu yang tandus. Membawa fantasi wisatawan semakin liar. Petra pun berhasil memesona UNESCO hingga mencatatnya sebagai ‘World Heritage’ sejak 1985 dan ‘New Seven Wonders’ pada 2007.

 

About the Author